Iklan
Minggu, 16 Juni 2024
Surat Untuk Nahkoda
Minggu, 04 Juni 2023
CERITA DARI NAVIA
Lencana Mengabdi Desa
Jumat, 22 Mei 2020
Bahasa ngapak
ISTILAH DALAM BAHASA NGAPAK.
Bantuan bagi terdampak covid-19
Dana Bagi Terdampak Covid-19.
Mari para pembaca yang budiman kita belajar dan pahami bersama, sehingga tidak ada kesimoang siuran informasi diantara masyarakat fannkita bersama.
Kamis, 21 Mei 2020
Kotagede, Yogyakarta
Sebagai penyandang gelar kota kerajinan perak di pulau jawa, kotagede rupanya segera berbenah diri untuk semakin meningkatkan kualitas bahan serta kualitas hasil produksi peraknya.
Rabu, 20 Mei 2020
javanesse cat
Di Indonesia pada umumnya memiliki banyak jenis kucing hutan.
Selasa, 19 Mei 2020
HAN NARA jewelry art.
Jewelry made in Indonesia.
One kind of belonging that needed so much by some of women in the world is jewelry. And the jewelry that made from silver jewelry is one kind the best stuff that ever made in the world.
Minggu, 08 Desember 2019
Suara Hati
Suara Hati.
Pagi hingga sore waktu terasa sangatlah cepat berlalu.
Terlupakan oleh sebuah kegiatan rutin yang mesti ditunaikan...
Namun kala senja tipis berwarna merah dilangit telah berganti kelam...
Dan sayup merdu para santri telah bersahutan dengan lantunan para ustadz melaung indah berirama melodi sorga..yang diiringi indahnya tetes air mata cinta akan Illahi Rabbi.
Tasdid...maad..idghom...idhar dan dengung mengiring..bak nasyid indah yang timbul dari qolbu sang pelantun kitab suci.
Aku merasa..
Aku merasa...
Aku merasa....
Betapa tidak berartinya diri ini dengan segenap ilmu yang dimiliki....
Suaraku seolah tak bergema dilangit sana.
Seolah hanya berpijak pada sebuah tempat kecil dipojokan langit sana,dengan pakaian lusuh dan kumalku....Serta ditatap dengan senyum iba' saja.
Iya iba....aku hanya sebatas dikasihani saja.Belas kasih saja.....
Sementara aku tidak mampu mengambil cinta_Nya.
Seberapa pun aku belajar untuk meraih keindahan cinta itu.......
Semakin aku tidak mampu menasyidkan tasdid...maad...idhom...dan idhar itu....
Senja di penghujung hari....
Benar-benar menambah gulana,,,,dari gundahnya sebuah hati yang rindu akan cinta Illahi Rabbi.
Pondok pesantren ini
Betapa telah sangat menyadarkanku...
Bahwa aku memang sangat belumlah pantas untuk mendapatkan cinta_Nya yang 'istimewa'...........
.....
....
...
..
.
Rona Hati
Dingin,ayem,kabut berembun dan pekat . .
Sesaat kusapa dan kupeluk dinginnya malam dihalaman rumah . .
Seperti biasa,mata pun beradu pandang dengan sayunya gugusan-gugusan bintang . .
Perlahan . .
Hatiku pun mulai berbicara dengan Tuhan . .
Inilah aku . . yang selalu berbicara dengan Tuhan yang sama meski dalam masa dan tempat yang berbeda-beda.
Tuhan . . tiap 1000 permohonan yang telah aku panjatkan,dan akan selalu menjadi 1001 kebijakan dalam kebajikan telah Kau berikan . . meski dengan rentang waktu yang memayahkan . .
Begitu juga dengan malam ini kan Tuhan ? . .
DERMAGA SENJA
Dermaga Senja.
Sore itu kami pun bersegera menunaikan shalat ashar di penghujung waktu,lalu bergegas untuk menuju ke sebuah penyeberangan di dermaga tua.Kunjungan tiga gadis cantik kecil ke kosan kami di sore itu membuat hati kami tak tega untuk membiarkan ketiganya pulang begitu saja.Timbul rasa kecemasan dalam hati ini,bagaimana bila terjadi sesuatu dalam perjalanan mereka nanti.Kemudian " Bagaimana kalau kita menuju ke dermaga bersama-sama..kebetulan kami juga mau menuju kesana " mas jamal yang sedari tadi duduk dikursi di sebelahku, berinisiatif cepat sebagai wujud kebaikan hatinya.
Nuansa di sore itu terasa sangatlah berbeda dengan bergabungnya adik perempuanku di sertai dengan seorang gadis kawan karibnya itu.
Airnya yang berriak kecil..Biduk-biduk kecil para penduduk sekitar yang telah ditambatkan..Sampan-sampan bermesin yang bendera usangnya tetap berkibar tertiup angin di senja itu, beserta pengemudi sampannya yang ramah dan tampak bersahaja selalu tersenyum sambil menunggu pada setiap orang yang datang.
" Segeralah naik ke sampan dan pulanglah kerumah..karena orang tua mungkin sudah menunggu sedari siang " kami berpesan.
Jingga rona senja di langit,kepak sayap dan cicit burung selat,juga goyangan biduk-biduk kosong dalam tambatan akibat riak-riak kecil..seolah mengiring sang raja hari ke peraduan malamnya.
Sampanpun terisi penuh sesak dengan para penumpang terakhirnya di hari menjelang malam itu..
Kecil dari kejauhan tampak sampan itu pelan melaju menyusuri selat berair tenang..lalu menghilang dibalik kabut pembatas jarak pandang.
Tinggalah kami saja di dermaga senja itu dan bersiap untuk menyongsong pelita esok hari setelah gulitanya malam kami lalui, dengan ditemani hembusan angin senja dibalik temaram lampu malam ditepian dermaga...penuh dengan kebisuan.
Di Bawah Temaram Purnama
Cerita lusa, jum'at malam.
When I enjoyed with this imagine, without my consciousness I walked away far from home in to the savana. Under the light of fullmoon. And the story was begun.
Aku berpikir, pria ini begitu menakjubkan mampu.menciptakan emas dan berparas rupawan, kenapa memilih menyendiri tengah sabana.
Kemudian pria bersorban itu berdiri tanpa expresi apapun dingin saja, meninggalkan kedua utusan dunia itu. Ditengah langkah kami yang sedang pergi berlalu, datanglah menyusul seekor kucing, dari coraknya jelas sekali itu bukan kucing persia apalagi kucing angora.. tapi sangat jelas kucing batu yang berlari menghampiri dan bergelayut manja diantata kedua kaki bersorban secara bergantian.
Dari bukit sebelah suara pria yang lain tanpa wujud bergema, " celakalah kalian itu adalah muhammad ".
Kudu adus.. kudu nguli meneh.
Wes ngunu terus
SEBUAH IBARAT
Rabu, 11 Oktober 2017
Senja dari bordes kereta
" Tahukah kamu ada berapa penumpang dalam kereta ini ?, tahukah kamu kemana kita akan dibawa kereta ini, dan di mana kereta ini akan berhenti ?, tahukah kamu siapa masinis kereta ini ?, tahukah kamu dari negara mana saja para penumpang kereta ini ?, dan tahukah kamu bahwa kamu adalah seorang perenung yang sangat beruntung ? ", begitu ia berkata.
Sungguh aneh pikirku.
Kini kulihat wajahnya sangat cantik jelita, jemarinya tampak lembut dan senyumnya pun sangat anggun penuh pesona. " maaf bapak, dimohon untuk menunjukan tiket kereta apinya, serta tidurlah pada tempat duduk yang tersedia karena bordes kereta adalah tempat yang berbahaya untuk tidur sambil jongkok ", jelas petugas kereta api sambil tersenyum lebar, selebar lautan.
" Oh, manusia toh kirain roh orang mati ", pikirku sambil beringsut menuju tempat duduk didalam gerbong kereta, senja ini.
Jumat, 17 Maret 2017
BACALAH
' IQRO '
Bacalah
Intinya adalah kualitas isinya meskipun sederhana bentuknya.
Aku pun bahkan sampai tak tahu sudah berada dimana itu, masuk dan keluar gang serta jalan kecil begitu seterusnya.
Yang penting asyik aja menikmati hari selagi masih bisa bernafas di muka bumi ini.
Tiba-tiba penciumanku menangkap aroma gosongnya uli bakar, hmm sedaap.
Aku pun memesan 2 iris uli bakar pada bapak penjualnya serta semangkuk sup buah pada abang penjual disebelahnya.
Dua iris uli bakar seharga 5 ribu, nikmat sekali rasanya.
Tepat dibelakangku adalah sebuah toko buku kecil.
Wah suatu kebetulan, dari dulu aku suka sekali dengan aroma kertas buku yang masih baru.
Niatku pada akhir jalan-jalan sore ini akan aku habiskan ditoko buku ini.
Rupanya hasrat mengalahkan segalanya.
Setelah minuman yang kupesan aku bayar, aku langsung ke toko buku itu.
Ah, toko buku selalu melakukan hal itu padaku dari dulu.
Senang sekali aku dapat kesempatan ini.
Inilah salah satu kitab yang sebagai seorang muslim aku harus mengimaninya.Inilah rukun yang ke-3, dimana yang ke-1 adalah iman kepada Allah, yang ke-2 adalah iman kepada Malaikat.
Andaikan aku tidak percaya dengan Kitab ini dimana ini adalah salah satu dari Kitab-Kitab yang turunkan oleh Allah, maka aku tidak dianggap seorang muslim meskipun ini bukan Kitab suci agamaku.
Hatiku berdecak dan membaca secara seksama sebuah tulisan berbunyi :
Imamat 26 ayat 1.
Keluaran 20 ayat 4 dan 5.
Senin 06 Maret 2017.
23:12 Wib.
Senin, 06 Maret 2017
Titik di sudut relung
Titik di sudut relung.
Sekalipun merahku telah pudar..tapi aku masih punya wadahnya.
Sekalipun sinarku telah memendar..tapi aku masih punya biasnya.
Sekalipun apiku telah padam..tapi aku masih punya baranya.
Sekalipun warnaku telah menjadi buram..tapi aku masih punya titik goresnya.
Sekalipun gerakku telah mati..tapi aku masih punya getarnya.
Sekalipun aku hancur menjadi debu..tapi aku masih punya unsurnya.
Sekalipun hariku berlalu..tapi aku masih punya ceritanya.
Sekalipun gelap..tapi aku masih punya nuansanya.
Dan..
Sekalipun aku mati..aku masih punya bangkitnya.
Karena..
Hakku juga sebentuk dari kewajibanku..
Sehingga tidak begitu soal bagiku..tentang semua itu.
Bagiku..
Hidupku adalah kewajibanku.
Kewajibanku untuk 'manut' hidup sementara.
Kewajibanku untuk tetap bertuhan pada Tuhan semesta alam.
Tuhan yang esa.
Tuhan yang disembah oleh bintang-bintang.
Tuhan yang kepada_Nya saja para malaikat bertuhan.
Tuhan yang kepada_Nya saja para malaikat patuh.
Tuhan yang memberikan rasa..karsa..dan cipta pada kita manusia....sehingga tindak dan bicara kita para manusia terkadang meniru Tuhan atau bahkan ingin di Tuhankan.
Tuhan yang telah meniupkan Ruh_Nya kepada Adam (ciptaan_Nya).
Berabad kemudian jadilah manusia berkelompok-kelompok..bersuku-suku..dan berbangsa-bangsa.
Manusia yang lancang kepada Sang Pencipta.
Ahhh..
Biarlah saja.
Yang terpenting adalah..
Bahwa setiap hak akan dimintai pertanggung jawabannya.
Dan setiap kewajiban akan dihitung balasannya.
Hati yang selalu berdzikir dalam setiap getarannya.
Kewajiban yang selalu ditunaikan dalam tiap detak jantungnya.
Writted by,
Fayed b.
Kamis, 02 Maret 2017
Sahabatku telah berpulang
Sahabatku telah pulang
Baru 10 hari yang lalu, belum genap 2 minggu.
Pak direktur memperkenalkan aku dengan warga asing yang menjabat sebagai kepala produksi di perusahaan ini, di salatiga.
Beberapa menit kemudian di panggilah seorang supervisor warga indonesia, ilin namanya.
Kami pun berjabat tangan erat, senyum dari wajah tampannya pun mengembang." ilin ", ucapnya mantap. Aku biasa memanggilnya dengan mas ilin, meskipun usiaku terpaut 4 tahun lebih tua, tapi dia adalah seniorku dan dia pun sudah berkeluarga dan sudah mempunyai seorang putra yang masih balita.
Sejak saat itu kami sangat akrab dan sangat dekat..hampir tiada jarak.
Kemana pun hampir selalu bersama.
Begitu sampai di tempat biasa kucari-cari mas ilin tidak ada. Tidak tahunya mas ilin sedang makan siang dibalik pintu. " Maaf mas saya makan siang duluan, habisnya mas fayat kelamaan ", begitu katanya.
" Tapi masih belum selesai kan, tuh masih ada barang 2 sendok di sana kita makan disana aja yuk mas ", aku mengajak.
Mas ilin pun mengikutiku.
Tidak ada begitu banyak perbincangan siang tadi..kecuali sekedar wacana dari bos membuka gedung baru di sebelah gedung yang sudah ada.
Dan sambil berucap salam diiringi senyum keceriaan yang mengakhiri pertemuan di setiap petangnya untuk jumpa lagi keesokan harinya.
Setiba aku di kosan, seperti biasa aku buru-buru shalat magrib kemudian makan malam.
Baru dua suap nasi...handphoneku berdering. " oh pak direktur ", bisikku.
Dengan gayanya bicaranya yang khas, beliau bilang " cobalah kau cari informasi tentang ilin, sepulang kerja terjadi kecelakaan di dekat perusahaan kita...denger-denger ilin meninggal.
" inalillahi ", pekikku.
Secepat kilat kusambar sepeda ontelku menuju lokasi kejadian.
Aku bertemu securiti perusahaan disana...juga ada seorang opsir polisi yang menjaga TKP.
Kutanyakan perihal mas olin kepada opsir polisi tersebut...dan penjelasannya membuat tubuhke gemetar hebat.
" helm yang dikenakan hancur dan kepalanya pendarahan hebat, saat dibawa ke rumah sakit sudah tidak tertolong lagi ", opsir itu menjelaskan.
" Saudara siapa ? ", opsir itu bertanya kepadaku.
" saya adalah temannya, sahabatnya, iyah sahabatnya saja ", hatiku pilu tiada tara.
Satu diantara dua sahabat, dan yang lebih aku cintai telah Engkau ambil ya Allah..
Aku ikhlas..
Seperti dalam do'aku semoga Allah SWT, menerima kepulanganmu penuh dengan ampunan dan kebaikan.
Biarlah akan kutapaki sisa-sisa kenangan itu yang pastinya akan menimbulkan perih tertoreh dalam hati di sepanjang hari.
Jalan pulang itu telah mengantarmu pulang untuk selamanya.
For my best and beloved friend, ilin in memories
Fayat.
Selasa, 14 Februari 2017
TENTANGMU
Belai angin di dedaunan, bentuk iramamu.
Alam yang menghijau, adalah syairmu.
Diam seribu bahasa, merupakan pesona misterimu.
Dengan senyummu, benang kusut pun terurai lembut.
Dengan diam melodimu, yin yang pun terbangun dari lelapnya.
Dengan sunyimu, raja hutan pun menjadi gusar dalam kecemasan.
Bahkan,, hanya dengan belaimu saja para pendosa terbuai terlelap tenang.
Kau selalu begitu.
Bahkan bias tatapmu, wujud nasihat damai kalbuku.
Kau tidak berubah.
Dan diam bahasamu, bagaikan zona nyamanmu untukku.
T'lah kucoba menggapaimu.
Tapi kau selalu begitu.
Kau pun berlalu, larut bersama waktu.
Tapi desir angin di dedaunan, serta sentuhan halus endapan kakimu di tiap nafasku.
Kau ternyata abadi..
Duhai,,.
Lihatlah pada rambutku yang kian memutih.
Lihatlah pada wajahku yang kian mengeriput.
Lihatlah pada tubuhku yang kian merenta.
Lihatlah kemari, kau sungguh membuatku lelah.
Bagaimana mungkin, kau yang selalu diam.. bisa memahami segala sesuatu ???.
Bahkan hingga diujung senja pun, aku tak mampu lagi memahami arti pedulimu itu.
15.07.16
Writted by yayat budiman.
Macapat ; megatruh
Kamis, 16 Juni 2016
Sahabat Pena
Sahabat Pena.
Suatu sore,disebuah koridor stasiun kereta api,di yahoo kimo,Papua.Seorang lelaki moslem berwajah tampan berusia kurang lebih 20 tahunan,berambut ikal,warna pirang,berkulit sawo matang bernama Alfredo.Duduk termangu seolah sedang menunggu sesuatu.Tiap kereta yang singgah dan berhenti distasiun diamatinya dengan harap cemas.Tapi apa yang dicarinya tak kunjung tiba.
Sahabatnya,iyah sahabatnya.Seorang gadis moslem dewasa,parasnya cantik,berasal dari timor leste.Sahabat pena Alfredo yang dikenalnya sejak beberapa tahun silam,dia bernama Laura da costa.
Beberapa kali mereka saling bertemu distasiun kereta ini,sekedar untuk berbagi cerita dan saling menanyakan kabar.Atau seringkali mereka saling menulis surat untuk berkirim kabar,yang mereka titipkan lewat seorang awak kereta api " Mutiara hitam ".Namun sudah sejak 2 bulan terakhir ini kereta tersebut sudah berhenti beroperasi,dan awak kapal kereta tersebut pun sudah tidak ada kabarnya lagi.
Merahnya senja di sore itu,semakin menambah kerisauan hati,yang kian menggundah gulana.Raut wajah lesu,dan ekspresi keputus asaan sangat nampak pada diri laki-laki tampan itu.
Hingga pukul 05.30 sore,stasiun tua itu pun tutup.Tak seorang pun duduk di stasiun kereta itu lagi,hanya dirinya seorang saja.
" Laura da costa,
Seakan,turut merasakan hatimu laura..
Laura engkau laura..sahabat hatiku yang lara..
Sahabat sejati,
Luv,
Alfredo "
Rupanya,dalam surat terakhir Laura yang dikirim buat Alfredo,mengabarkan bahwa Laura dalam kondisi kritis akibat kanker di kepala yang di idapnya sudah memasuki stadium II.
Sore itu,dengan langkah gontai Alfredo meninggalkan stasiun tercintanya.Menyusuri padang berbukit-bukit kecil,di tengah merahnya rona senja...
Pupus sudah harapan,punah sudah impian.Goresan tinta pena di stasiun kereta api yahoo kimo,kini berakhir sudah.
Mungkin juga Laura merasakan getar dawai hati Alfredo.
Sebuncah harapan,selarik do'a,sebait kenangan..terucap calam hati Alfredo,kemudian larut dalam hangatnya setitik air mata di pelupuknya.
Hanya campur tangan Tuhan saja yang sanggup mempertemukan mereka kembali.Ia pun ikhlas akan kehendak Illahi.
Terima kasih Tuhan,bisik Alfredo.
Writted by : Yayat Budiman.
Embun Di Penghujung Malam
Ode Untuk Sahabat.
"Sahur..sahur" suara sekumpulan anak-anak itu seketika memecahkan tidur nyenyakku ditengah kesunyian malam.Perlahan kubuka mataku.."Oh,anak-anak RT sebelah rupanya" gumamku,seolah-olah aku masih berada dirumah kosan jalan kantil,sidakaya.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar tidurku,"Sahur...sudah menjelang pagi" aku terkejut seperti suara ibuku.Sambil menyingkap selimut kuraba-raba tempat tidurku.Barulah aku sadar rupanya ini adalah malam keduaku dirumah.Sengaja aku akhirkan waktu santap sahurku malam ini,agar ada tenaga simpanan dalam perjalananku hari ini.
"Santap sahurnya telat..tidak seperti kemarin" ibuku menyelidik.Aku terdiam sambil meneguk air."Jadi ke Salatiga..." sambung ibuku.Sejurus kulihat wajah ibu, guratan wajah yang kian menua..serta rona wajah yang penuh dengan pengharapan dan do'a itu seolah ingin mengetahui sebuah kepastian."Insyaallah bu...." jawabku datar,kulihat ada sedikit senyum terkembang disana.
Kusiapkan beberapa berkas lama yang kuanggap mungkin diperlukan saja.Lalu kuambil sehelai baju dari dalam almari untuk kukenakan ke Salatiga pagi ini.Kemudian "Degg..." jantungku berhenti berdegup, sesaat kemudian terasa aliran darah dalam tubuh yang lebih cepat.
Kulihat jaket pemberian adik-adik peserta diklat SMK N I CILACAP dalam barisan jaket-jaket disana.
Aku teringat siang itu.Sebenarnya aku merasa enggan untuk menerima hadiah itu, lagian itu adalah uang hasil patungan uang jajan mereka.Tak tega melihat itu semua..namun tak sampai hati juga menolaknya.Namun bagaimana lagi aku juga harus menghargai keputusan mereka.Akhirnya kuputuskan bahwa jaket inilah yang akan menemani pertemuanku dengan direktur lim hari ini.
Iya....adik-adik peserta itu adalah peserta yang pintar-pintar,rajin,lucu-lucu,dan memiliki jiwa persaudaraan yang kuat antara yang satu dengan yang lainnya.Dua bulan, pertemuan yang singkat dan sarat dengan kenangan.
Acara perpisahan waktu itu kebetulan dibarengi dengan hari ulang tahun June,salah satu siswi cantik alumni Boedi Oetomo yang ikut bergabung dalam diklat waktu itu.Masih teringat betul kejadian dihari itu,aku bagikan beberap pensil,dan bolpoin sebagai tanda perpisahan.Tapi gadis cantik ini tidak aku beri apapun setelah yang lainnya kebagian.Kulihat ada sebentuk kekecewaan yang mendalam disana..seolah aku melupakannya begitu saja.Kasihan juga melihatnya tidak bisa berlama-lama akhirnya kuberikan juga satu bolpoin yang agak beda dibanding yang lainnya.Dan kulihat wajahnya pun bersinar lagi.
Kesedihan menyelimutiku kala menyampaikan kata perpisahan hari itu.Seolah ada ribuan luka lama ikut membuncah dalam hatiku.Hampir aku tak kuasa menahan emosiku,mata yang berkaca-kaca seolah ingin dilelehkan..bahkan dinginnya angin dipelupuk mata sudah terasa.Dengan sigap kuambil hape dalam saku celanaku,lalu aku berusaha melupakan keadaan dengan cara asyik membuka-buka isinya."Biarlah mereka merasa tidak diacuhkan sementara waktu,daripada aku harus menanggung malu akibat gejolak emosi dalam jiwaku" pikirku waktu itu.Setidak-tidaknya aku kuat menghadapi perpisahan itu.Begitu banyak perpisahan telah aku rasakan disepanjang perjalanan hidup ini, dan luka akibat perpisahan bukan hanya perih namun menyesakkan dada dan mengoyak jiwa.Surat-surat kecil itu juga semakin menambah beratnya rasa perpisahan itu sendiri.Namun aku sadar bahwa mereka sudah saatnya untuk bangkit...bangun dari tidur panjangnya...mewujudkan segala imajinasinya...serta harus kuat dalam menentukan langkah kehidupannya...
Surat Untuk Nahkoda
Surat Untuk Nahkoda 2014. Cukup angka itu yg akan selalu diingatnya. Sejak saat itu, selalu saja 2 buah pucuk surat tulisan tangan kakeknya ...
-
Lencana Mengabdi Desa. Apa yang ingin aku nyatakan untukmu wahai para pendahulu dan yang terkemudian, hanyalah sebuah harapan, " Tuhan,...
-
ISTILAH DALAM BAHASA NGAPAK. Beberapa istilah dslam bahass ngapak. *NGAMPAT*: mendatangi suatu tempat yg jauh dan biasanya dengan b...
-
Surat Untuk Nahkoda 2014. Cukup angka itu yg akan selalu diingatnya. Sejak saat itu, selalu saja 2 buah pucuk surat tulisan tangan kakeknya ...




