Dermaga Senja.
Sore itu kami pun bersegera menunaikan shalat ashar di penghujung waktu,lalu bergegas untuk menuju ke sebuah penyeberangan di dermaga tua.Kunjungan tiga gadis cantik kecil ke kosan kami di sore itu membuat hati kami tak tega untuk membiarkan ketiganya pulang begitu saja.Timbul rasa kecemasan dalam hati ini,bagaimana bila terjadi sesuatu dalam perjalanan mereka nanti.Kemudian " Bagaimana kalau kita menuju ke dermaga bersama-sama..kebetulan kami juga mau menuju kesana " mas jamal yang sedari tadi duduk dikursi di sebelahku, berinisiatif cepat sebagai wujud kebaikan hatinya.
Nuansa di sore itu terasa sangatlah berbeda dengan bergabungnya adik perempuanku di sertai dengan seorang gadis kawan karibnya itu.
Dewi namanya,seorang gadis dari alumni sastra bahasa asing yang berasal dari sebuah keluarga terpandang di sebuah kota kecil di jogjakarta.
Tak terasa sampailah juga kami di dermaga tua itu.
Airnya yang berriak kecil..Biduk-biduk kecil para penduduk sekitar yang telah ditambatkan..Sampan-sampan bermesin yang bendera usangnya tetap berkibar tertiup angin di senja itu, beserta pengemudi sampannya yang ramah dan tampak bersahaja selalu tersenyum sambil menunggu pada setiap orang yang datang.
" Segeralah naik ke sampan dan pulanglah kerumah..karena orang tua mungkin sudah menunggu sedari siang " kami berpesan.
Jingga rona senja di langit,kepak sayap dan cicit burung selat,juga goyangan biduk-biduk kosong dalam tambatan akibat riak-riak kecil..seolah mengiring sang raja hari ke peraduan malamnya.
Sampanpun terisi penuh sesak dengan para penumpang terakhirnya di hari menjelang malam itu..
Kecil dari kejauhan tampak sampan itu pelan melaju menyusuri selat berair tenang..lalu menghilang dibalik kabut pembatas jarak pandang.
Tinggalah kami saja di dermaga senja itu dan bersiap untuk menyongsong pelita esok hari setelah gulitanya malam kami lalui, dengan ditemani hembusan angin senja dibalik temaram lampu malam ditepian dermaga...penuh dengan kebisuan.
Airnya yang berriak kecil..Biduk-biduk kecil para penduduk sekitar yang telah ditambatkan..Sampan-sampan bermesin yang bendera usangnya tetap berkibar tertiup angin di senja itu, beserta pengemudi sampannya yang ramah dan tampak bersahaja selalu tersenyum sambil menunggu pada setiap orang yang datang.
" Segeralah naik ke sampan dan pulanglah kerumah..karena orang tua mungkin sudah menunggu sedari siang " kami berpesan.
Jingga rona senja di langit,kepak sayap dan cicit burung selat,juga goyangan biduk-biduk kosong dalam tambatan akibat riak-riak kecil..seolah mengiring sang raja hari ke peraduan malamnya.
Sampanpun terisi penuh sesak dengan para penumpang terakhirnya di hari menjelang malam itu..
Kecil dari kejauhan tampak sampan itu pelan melaju menyusuri selat berair tenang..lalu menghilang dibalik kabut pembatas jarak pandang.
Tinggalah kami saja di dermaga senja itu dan bersiap untuk menyongsong pelita esok hari setelah gulitanya malam kami lalui, dengan ditemani hembusan angin senja dibalik temaram lampu malam ditepian dermaga...penuh dengan kebisuan.
Writted by yayat budiman

Tidak ada komentar:
Posting Komentar