Iklan

Rabu, 11 Oktober 2017

Senja dari bordes kereta



Bordes Kereta Senja.

Perjalanan menuju ke jakarta sore itu terasa sangat sunyi dalam sebuah gerbong kereta yang ramai dengan para penumpangnya. Pada barisan depan tampak seorang anak laki-laki kecil bergelayut manja dalam pangkuan ibunya. Ada yang asyik dengan alunan musik dalam ear phonenya, ada yang asyik dengan koran di depan kacamata tebalnya, dan ada juga yang bersandar manja pada sang pujaan hatinya. Sementara aku asyik dengan menerawang keadaan ditengah lamunanku.
Rasa jenuh akhirnya mengalahkan angkuhnya sikap diamku, hingga membawaku ke dalam sebuah bordes kereta.
Jauh diujung sana tampak indahnya karunia yang Maha Kuasa. Barisan perbukitan yang menghijau, nyiur pepohonan kelapa yang mengisyaratkan kedamaian bumi pertiwi, lembah pegunungan yang jauh nan teduh, serta hamparan pesawahan yang luas dengan pohon dan padinya yang tampak kuning keemasan.
Ke sinilah aku selalu kembali, disinilah aku merasa hidup, kala perjalanan panjang telah di mulai, dalam sebuah bordes kereta dikala hari menjelang senja.
Terasa pundakku disentuh seseorang, tampa wajahnya sangat tampan dan rupawan. Warna kulitnya putih kemerah-merahan, bentuk badannya pun tegap. Hanya saja senyum diwajahnya agak dingin dan muram. Jelas itu adalah orang eropa, dengan bahasanya ia berkata padaku seperti serentetan peluru es yang dihamburkan dari sebuah laras gandanya.
" Tahukah kamu ada berapa penumpang dalam kereta ini ?, tahukah kamu kemana kita akan dibawa kereta ini, dan di mana kereta ini akan berhenti ?, tahukah kamu siapa masinis kereta ini ?, tahukah kamu dari negara mana saja para penumpang kereta ini ?, dan tahukah kamu bahwa kamu adalah seorang perenung yang sangat beruntung ? ", begitu ia berkata.
Sungguh aneh pikirku.
Kemudian ia menjelaskan beberapa hal kepadaku, " ibarat kehidupan, kereta inilah yang mengambil hidupmu dari kehidupan. Kereta inilah yang mengantarkan substansi hidupmu setelah kematian ragamu. Kereta ini berisi  minimal 2500 penumpang orang indonesia setiap harinya, dan ribuan penumpang dari berbagai negara lainnya dari masing-masing stasiunnya. Masinis kereta ini menguasai multi bahasa, sangat disiplin danbtidak akan membiarkan satu pun dari penumpangnya tertinggal. Dan kereta ini akan melewati stasiun mars, stasiun pluto, dan akan berhenti pada sebuah stasiun terakhir yaitu stasiun barzakh. Di sanalah kita semua akan diturunkan tanpa ada yang tertinggal. Di stasiun barzakh masing-masing dari kita akan mendapatkan akomodasi yang sesuai dengan tiket keretanya. Saya mendengar kebanyakan dari para penumpang kereta yang kemarin, dan kemarin lusa mendapatkan akomodasi yang buruk dan banyak yang menjadi gelandangan di stasiun barzakh sana. Serta para calon penumpang besok dan besok lusa adalah penumpang teladan sepanjang masa bahkan telah disiapkan hotel mewahnya. Entah dengan kita para oenumpang hari ini. Saya dengar dari masinis dan awak kereta senja ini, bahwa kamu sangat beruntung karena akan diturunkan di stasiun jatinegara itu  berarti kamu memiliki kesempatan untuk membeli tiket kereta sesuka hatimu, betapa beruntungnya dirimu aku iri kepadamu ", begitu jelasnya dan ia pun berlalu dan menghilang di balik pintu.
Kemudian bahuku pun ditepuk kembali dengan tepukan, dan irama yang sama. Aku seolah baru terjaga kemudian terbangun dari tidurku.
Kini kulihat wajahnya sangat cantik jelita, jemarinya tampak lembut dan senyumnya pun sangat anggun penuh pesona. " maaf bapak, dimohon untuk menunjukan tiket kereta apinya, serta tidurlah pada tempat duduk yang tersedia karena bordes kereta adalah tempat yang berbahaya untuk tidur sambil jongkok ", jelas petugas kereta api sambil tersenyum lebar, selebar lautan.
" Oh, manusia toh kirain roh orang mati ", pikirku sambil beringsut menuju tempat duduk didalam gerbong kereta, senja ini.

Jumat, 17 Maret 2017

BACALAH


' IQRO '

Bacalah
Jalan-jalan sore ini dipinggiran jalan arteri Kota Jakarta ( kemudian masuk ke dalam jalan kecil tentunya ), pun lumayan juga buat ngilangin rasa jenuh.
Membaca sebuah buku tidak mesti harus buku yang mahal serta sampulnya kelihatan bagus atau ditempat ternama, kecuali duit kita banyak.
Intinya adalah kualitas isinya meskipun sederhana bentuknya.
Selesai mengirim paket kecil ke Jawa, dari sebuah biro jasa pengiriman paket, aku mencoba jalan-jalan menyusuri keramaian Kota.
Aku pun bahkan sampai tak tahu sudah berada dimana itu, masuk dan keluar gang serta jalan kecil begitu seterusnya.
Yang penting asyik aja menikmati hari selagi masih bisa bernafas di muka bumi ini.
Capek juga, aku pun lantas duduk di pinggiran jalan pada sebuah sebuah tempat duduk yang telah tersedia di beberapa tempat di pinggiran kota.
Tiba-tiba penciumanku menangkap aroma gosongnya uli bakar, hmm sedaap.
Aku pun memesan 2 iris uli bakar pada bapak penjualnya serta semangkuk sup buah pada abang penjual disebelahnya.
Dua iris uli bakar seharga 5 ribu, nikmat sekali rasanya.
Di jalur ini banyak terdapat pertokoan di pinggiran jalan. dengan aneka rupa barang yang dipajang baik di rak kayu maupun di lemari etalase.
Tepat dibelakangku adalah sebuah toko buku kecil.
Wah suatu kebetulan, dari dulu aku suka sekali dengan aroma kertas buku yang masih baru.
Niatku pada akhir jalan-jalan sore ini akan aku habiskan ditoko buku ini.
Rupanya hasrat mengalahkan segalanya.
Setelah minuman yang kupesan aku bayar, aku langsung ke toko buku itu.
Beragam buku ada disana, ada yang tidak terbungkus plastik dan ada juga juga yang sudah terbungkus rapat sehingga kalau mau membaca banyak mesti beli dulu itu buku. Aromanya yang khas yang ditimbulkan sungguh membuatku berasa seperti masih siswa Sekolah Dasar saja.
Banyak buku aku buka dan membaca ringkasannya.Dua buah buku murah aku bawa pulang juga akhirnya.. mungkin tidak begitu istimewa tapi lumayanlah.
Setelah aku bayar aku pun beranjak keluar, namun ada satu buku yang bersampul hitam bertuliskan ALKITAB membuat langkah kakiku tertahan.
Ah, toko buku selalu melakukan hal itu padaku dari dulu.
Sayang sekali masih terbungkus plastik ALKITAB itu.Tapi penjualnya memberi tahukan aku bahwa sudah ada yang dibuka di rak lemari kaca yang satunya.
Senang sekali aku dapat kesempatan ini.
Inilah salah satu kitab yang sebagai seorang muslim aku harus mengimaninya.Inilah rukun yang ke-3, dimana yang ke-1 adalah iman kepada Allah, yang ke-2 adalah iman kepada Malaikat.
Andaikan aku tidak percaya dengan Kitab ini dimana ini adalah salah satu dari Kitab-Kitab yang turunkan oleh Allah, maka aku tidak dianggap seorang muslim meskipun ini bukan Kitab suci agamaku.
Setelah membaca basmallah, lembar demi lembar aku buka dan aku baca meskipun secara acak, karena waktuku sangat terbatas sore itu.
Hatiku berdecak dan membaca secara seksama sebuah tulisan berbunyi :
" Janganlah kamu membuat berhala bagimu, dan patung atau tugu berhala janganlah kamu dirikan bagimu, juga batu berukir janganlah kamu tempatkan di negerimu untuk sujud menyembah kepadanya, sebab Akulah Tuhan, Allahmu ".
Imamat 26 ayat 1.
Kemudian aku baca lagi pada sebuah tulisan yang lainnya :
" Janganlah membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi, janganlah sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku Tuhan Allahmu ".
Keluaran 20 ayat 4 dan 5.
Semakin bertambahlah kuat keimanan di dalam hatiku, setelah ALKITAB aku tutup dan tak lupa aku ucapkan terima kasih pada pemilik toko aku pun beranjak pulang dengan menaiki sebuah bajaj warna biru sore itu.
Jkt,
Senin 06 Maret 2017.
23:12 Wib.

Senin, 06 Maret 2017

Titik di sudut relung

Titik di sudut relung.

Sekalipun merahku telah pudar..tapi aku masih punya wadahnya.
Sekalipun sinarku telah memendar..tapi aku masih punya biasnya.
Sekalipun apiku telah padam..tapi aku masih punya baranya.
Sekalipun warnaku telah menjadi buram..tapi aku masih punya titik goresnya.
Sekalipun gerakku telah mati..tapi aku masih punya getarnya.
Sekalipun aku hancur menjadi debu..tapi aku masih punya unsurnya.
Sekalipun hariku berlalu..tapi aku masih punya ceritanya.
Sekalipun gelap..tapi aku masih punya nuansanya.

Dan..
Sekalipun aku mati..aku masih punya bangkitnya.

Karena..
Hakku juga sebentuk dari kewajibanku..
Sehingga tidak begitu soal bagiku..tentang semua itu.

Bagiku..
Hidupku adalah kewajibanku.
Kewajibanku untuk 'manut' hidup sementara.
Kewajibanku untuk tetap bertuhan pada Tuhan semesta alam.
Tuhan yang esa.
Tuhan yang disembah oleh bintang-bintang.
Tuhan yang kepada_Nya saja para malaikat bertuhan.
Tuhan yang kepada_Nya saja para malaikat patuh.
Tuhan yang memberikan rasa..karsa..dan cipta pada kita manusia....sehingga tindak dan bicara kita para manusia terkadang meniru Tuhan atau bahkan ingin di Tuhankan.

Tuhan yang telah meniupkan Ruh_Nya kepada Adam (ciptaan_Nya).

Berabad kemudian jadilah manusia berkelompok-kelompok..bersuku-suku..dan berbangsa-bangsa.
Manusia yang lancang kepada Sang Pencipta.

Ahhh..
Biarlah saja.

Yang terpenting adalah..
Bahwa setiap hak akan dimintai pertanggung jawabannya.
Dan setiap kewajiban akan dihitung balasannya.

Hati yang selalu berdzikir dalam setiap getarannya.
Kewajiban yang selalu ditunaikan dalam tiap detak jantungnya.

Writted by,
Fayed b.

Kamis, 02 Maret 2017

Sahabatku telah berpulang



Sahabatku telah pulang

Hari itu tanggal 23 juli 2015.
Baru 10 hari yang lalu, belum genap 2 minggu.
Pak direktur memperkenalkan aku dengan warga asing yang menjabat sebagai kepala produksi di perusahaan ini, di salatiga.
Beberapa menit kemudian di panggilah seorang supervisor warga indonesia, ilin namanya.
Kami pun berjabat tangan erat, senyum dari wajah tampannya pun mengembang." ilin ", ucapnya mantap. Aku biasa memanggilnya dengan mas ilin, meskipun usiaku terpaut 4 tahun lebih tua, tapi dia adalah seniorku dan dia pun sudah berkeluarga dan sudah mempunyai seorang putra yang masih balita.
Sejak saat itu kami sangat akrab dan sangat dekat..hampir tiada jarak.
Kemana pun hampir selalu bersama.
Bila waktu makan siang tiba, mas ilin selalu sudah memesankan makan siang untukku. Bedanya, setelah selesai makan siang aku langsung menunaikan shalat zohor sementara mas ilin yang bahkan bukan perokok itu tetap duduk sambil ngobrol dengan securiti dan para karyawan lain. Meski begitu mas ilin selalu memberikan aku ruang untuk shalat dulu.
Seperti biasa siang hari tadi pun kami makan siang bersama. Tetapi karena aku ada penataan kerja di kantor tempat kerja yang baru, sehingga istirahat siangku pun terlambat.
Begitu sampai di tempat biasa kucari-cari mas ilin tidak ada. Tidak tahunya mas ilin sedang makan siang dibalik pintu. " Maaf mas saya makan siang duluan, habisnya mas fayat kelamaan ", begitu katanya.
" Tapi masih belum selesai kan, tuh masih ada barang 2 sendok di sana kita makan disana aja yuk mas ", aku mengajak.
Mas ilin pun mengikutiku.
Tidak ada begitu banyak perbincangan siang tadi..kecuali sekedar wacana dari bos membuka gedung baru di sebelah gedung yang sudah ada.
Biasanya manakala bel tanda usai bekerja berbunyi. Kami selalu keluar ruangan bersama dan paling terakhir diantara para karyawan.
Dan sambil berucap salam diiringi senyum keceriaan yang mengakhiri pertemuan di setiap petangnya untuk jumpa lagi keesokan harinya.
Namun senin 3 agustus sore ini aku pulang 10 menit lebih awal.
Setiba aku di kosan, seperti biasa aku buru-buru shalat magrib kemudian makan malam.
Baru dua suap nasi...handphoneku berdering. " oh pak direktur ", bisikku.
Dengan gayanya bicaranya yang khas, beliau bilang " cobalah kau cari informasi tentang ilin, sepulang kerja terjadi kecelakaan di dekat perusahaan kita...denger-denger ilin meninggal.
" inalillahi ", pekikku.
Secepat kilat kusambar sepeda ontelku menuju lokasi kejadian.
Aku bertemu securiti perusahaan disana...juga ada seorang opsir polisi yang menjaga TKP.
Kutanyakan perihal mas olin kepada opsir polisi tersebut...dan penjelasannya membuat tubuhke gemetar hebat.
" helm yang dikenakan hancur dan kepalanya pendarahan hebat, saat dibawa ke rumah sakit sudah tidak tertolong lagi ", opsir itu menjelaskan.
" Saudara siapa ? ", opsir itu bertanya kepadaku.
" saya adalah temannya, sahabatnya, iyah sahabatnya saja ", hatiku pilu tiada tara.
Rupanya taqdir kehidupan telah menentukan mas ilin, sahabatku untuk berpulang di senja magrib petang itu.
Selamat jalan mas ilin...sahabat baruku.
Satu diantara dua sahabat, dan yang lebih aku cintai telah Engkau ambil ya Allah..
Kutulis paragraf kecil ini setelah kubacakan alfatihah dan yasin kehadirat Illahi Rabbi untukmu.
Aku ikhlas..
Seperti dalam do'aku semoga Allah SWT, menerima kepulanganmu penuh dengan ampunan dan kebaikan.
Rupanya cuma sampai disini saja kisah persahabatan kita.
Biarlah akan kutapaki sisa-sisa kenangan itu yang pastinya akan menimbulkan  perih tertoreh dalam hati di sepanjang hari.
Jalan pulang itu telah mengantarmu pulang untuk selamanya.
A true storry.
For my best and beloved friend, ilin in memories
With love,
Fayat.

Selasa, 14 Februari 2017

TENTANGMU

Kesunyian adalah tempomu.
Belai angin di dedaunan, bentuk iramamu.
Alam yang menghijau, adalah syairmu.
Diam seribu bahasa, merupakan pesona misterimu.

Dengan senyummu, benang kusut pun terurai lembut.
Dengan diam melodimu, yin yang pun terbangun dari lelapnya.
Dengan sunyimu, raja hutan pun menjadi gusar dalam kecemasan.
Bahkan,, hanya dengan belaimu saja para pendosa terbuai terlelap tenang.
Kau selalu begitu.

Bahkan bias tatapmu, wujud nasihat damai kalbuku.
Kau tidak berubah.
Dan diam bahasamu, bagaikan zona nyamanmu untukku.

T'lah kucoba menggapaimu.
Tapi kau selalu begitu.
Kau pun berlalu, larut bersama waktu.

Tapi desir angin di dedaunan, serta sentuhan halus endapan kakimu di tiap nafasku.
Kau ternyata abadi..

Duhai,,.
Lihatlah pada rambutku yang kian memutih.
Lihatlah pada wajahku yang kian mengeriput.
Lihatlah pada tubuhku yang kian merenta.
Lihatlah kemari, kau sungguh membuatku lelah.

Bagaimana mungkin, kau yang selalu diam.. bisa memahami segala sesuatu ???.
Bahkan hingga diujung senja pun, aku tak mampu lagi memahami arti pedulimu itu.


15.07.16
Writted by yayat budiman.
Macapat ; megatruh

Kamis, 16 Juni 2016

Sahabat Pena



Sahabat Pena.

Suatu sore,disebuah koridor stasiun kereta api,di yahoo kimo,Papua.Seorang lelaki moslem berwajah tampan berusia kurang lebih 20 tahunan,berambut ikal,warna pirang,berkulit sawo matang bernama Alfredo.Duduk termangu seolah sedang menunggu sesuatu.Tiap kereta yang singgah dan berhenti distasiun diamatinya dengan harap cemas.Tapi apa yang dicarinya tak kunjung tiba.

Sahabatnya,iyah sahabatnya.Seorang gadis moslem dewasa,parasnya cantik,berasal dari timor leste.Sahabat pena Alfredo yang dikenalnya sejak beberapa tahun silam,dia bernama Laura da costa.

Beberapa kali mereka saling bertemu distasiun kereta ini,sekedar untuk berbagi cerita dan saling menanyakan kabar.Atau seringkali mereka saling menulis surat untuk berkirim kabar,yang mereka titipkan lewat seorang awak kereta api " Mutiara hitam ".Namun sudah sejak 2 bulan terakhir ini kereta tersebut sudah berhenti beroperasi,dan awak kapal kereta tersebut pun sudah tidak ada kabarnya lagi.

Merahnya senja di sore itu,semakin menambah kerisauan hati,yang kian menggundah gulana.Raut wajah lesu,dan ekspresi keputus asaan sangat nampak pada diri laki-laki tampan itu.
Hingga pukul 05.30 sore,stasiun tua itu pun tutup.Tak seorang pun duduk di stasiun kereta itu lagi,hanya dirinya seorang saja.
Secarik kertas yang terbungkus amplop biru yang Ia tulis sejak 3 bulan yang lalu,masih tergenggam erat di tangannya.

" Laura da costa,
Sahabat penaku.
Kau kabarkan tentang,jalan hidupmu.
Bunga-bunga kini,jatuh berguguran.
Seakan,turut merasakan hatimu laura..
Laura engkau laura..sahabat hatiku yang lara..

Sahabat sejati,
Luv,
Alfredo "

Rupanya,dalam surat terakhir Laura yang dikirim buat Alfredo,mengabarkan bahwa Laura dalam kondisi kritis akibat kanker di kepala yang di idapnya sudah memasuki stadium II.
Sore itu,dengan langkah gontai Alfredo meninggalkan stasiun tercintanya.Menyusuri padang berbukit-bukit kecil,di tengah merahnya rona senja...
Pupus sudah harapan,punah sudah impian.Goresan tinta pena di stasiun kereta api yahoo kimo,kini berakhir sudah.

Mungkin juga Laura merasakan getar dawai hati Alfredo.
Sebuncah harapan,selarik do'a,sebait kenangan..terucap calam hati Alfredo,kemudian larut dalam hangatnya setitik air mata di pelupuknya.
Hanya campur tangan Tuhan saja yang sanggup mempertemukan mereka kembali.Ia pun ikhlas akan kehendak Illahi.

Terima kasih Tuhan,bisik Alfredo.


Writted by : Yayat Budiman.

Embun Di Penghujung Malam



Ode Untuk Sahabat.

"Sahur..sahur" suara sekumpulan anak-anak itu seketika memecahkan tidur nyenyakku ditengah kesunyian malam.Perlahan kubuka mataku.."Oh,anak-anak RT sebelah rupanya" gumamku,seolah-olah aku masih berada dirumah kosan jalan kantil,sidakaya.

Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar tidurku,"Sahur...sudah menjelang pagi" aku terkejut seperti suara ibuku.Sambil menyingkap selimut kuraba-raba tempat tidurku.Barulah aku sadar rupanya ini adalah malam keduaku dirumah.Sengaja aku akhirkan waktu santap sahurku malam ini,agar ada tenaga simpanan dalam perjalananku hari ini.

"Santap sahurnya telat..tidak seperti kemarin" ibuku menyelidik.Aku terdiam sambil meneguk air."Jadi ke Salatiga..." sambung ibuku.Sejurus kulihat wajah ibu, guratan wajah yang kian menua..serta rona wajah yang penuh dengan pengharapan dan do'a itu seolah ingin mengetahui sebuah kepastian."Insyaallah bu...." jawabku datar,kulihat ada sedikit senyum terkembang disana.

Kusiapkan beberapa berkas lama yang kuanggap mungkin diperlukan saja.Lalu kuambil sehelai baju dari dalam almari untuk kukenakan ke Salatiga pagi ini.Kemudian "Degg..." jantungku berhenti berdegup, sesaat kemudian terasa aliran darah dalam tubuh yang lebih cepat.

Kulihat jaket pemberian adik-adik peserta diklat SMK N I CILACAP dalam barisan jaket-jaket disana.


Aku teringat siang itu.Sebenarnya aku merasa enggan untuk menerima hadiah itu, lagian itu adalah uang hasil patungan uang jajan mereka.Tak tega melihat itu semua..namun tak sampai hati juga menolaknya.Namun bagaimana lagi aku juga harus menghargai keputusan mereka.Akhirnya kuputuskan bahwa jaket inilah yang akan menemani pertemuanku dengan direktur lim hari ini.


Iya....adik-adik peserta itu adalah peserta yang pintar-pintar,rajin,lucu-lucu,dan memiliki jiwa persaudaraan yang kuat antara yang satu dengan yang lainnya.Dua bulan, pertemuan yang singkat dan sarat dengan kenangan.

Acara perpisahan waktu itu kebetulan dibarengi dengan hari ulang tahun June,salah satu siswi cantik alumni Boedi Oetomo yang ikut bergabung dalam diklat waktu itu.Masih teringat betul kejadian dihari itu,aku bagikan beberap pensil,dan bolpoin sebagai tanda perpisahan.Tapi gadis cantik ini tidak aku beri apapun setelah yang lainnya kebagian.Kulihat ada sebentuk kekecewaan yang mendalam disana..seolah aku melupakannya begitu saja.Kasihan juga melihatnya tidak bisa berlama-lama akhirnya kuberikan juga satu bolpoin yang agak beda dibanding yang lainnya.Dan kulihat wajahnya pun bersinar lagi.


Kesedihan menyelimutiku kala menyampaikan kata perpisahan hari itu.Seolah ada ribuan luka lama ikut membuncah dalam hatiku.Hampir aku tak kuasa menahan emosiku,mata yang berkaca-kaca seolah ingin dilelehkan..bahkan dinginnya angin dipelupuk mata sudah terasa.Dengan sigap kuambil hape dalam saku celanaku,lalu aku berusaha melupakan keadaan dengan cara asyik membuka-buka isinya."Biarlah mereka merasa tidak diacuhkan sementara waktu,daripada aku harus menanggung malu akibat gejolak emosi dalam jiwaku" pikirku waktu itu.Setidak-tidaknya aku kuat menghadapi perpisahan itu.Begitu banyak perpisahan telah aku rasakan disepanjang perjalanan hidup ini, dan luka akibat perpisahan bukan hanya perih namun menyesakkan dada dan mengoyak jiwa.Surat-surat kecil itu juga semakin menambah beratnya rasa perpisahan itu sendiri.Namun aku sadar bahwa mereka sudah saatnya untuk bangkit...bangun dari tidur panjangnya...mewujudkan segala imajinasinya...serta harus kuat dalam menentukan langkah kehidupannya...

Teruslah semangat adik-adik para putra pertiwiku....Songsonglah hari esok dengan penuh kegigihan....Lekatkanlah tujuan dan jangan sesekali menoleh kebelakang.....Cukuplah yang dibelakang kau kenang dalam kanvas bola mata masa depan.....Dan bersiaplah untuk menatap cerahnya merah mentari pagi disegenap persada bumi pertiwi....


Salatiga,18 juni 2015.
A true storry.
Writted by fayed b.
With luv.



Surat Untuk Nahkoda

Surat Untuk Nahkoda 2014. Cukup angka itu yg akan selalu diingatnya. Sejak saat itu, selalu saja 2 buah pucuk surat tulisan tangan kakeknya ...